Pembelian Tank Jerman Perkuat Posisi Indonesia

tank-leopard-buatan-jerman-_120704075106-144.jpg - 44.08 KB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peluang yang diberikan Jerman, terkait penjualan tank Leopard, menurut pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah bisa meningkatkan daya tawar Indonesia secara global.

Selain itu, menurut Teuku, pembelian tank Leopard bisa membuka kesempatan kerja sama dengan berbagai alternatif kemitraan yang lebih menguntungkan. "Itu menunjukkan posisi tawar Indonesia, sekaligus memperluas sumber pembelian persenjataan mutakhir," kata Teuku di Jakarta, Rabu (15/6).

Direktur Eksekutif di Pusat Demokrasi, Diplomasi, dan Pertahanan Indonesia (IC3D) ini menyebut, pembelian itu juga membuat posisi tawar Indonesia meningkat dengan negara-negara pemasok alat sejenis seperti Amerika Serikat, Cina, atau Korea Selatan.

Artinya, Indonesia di mata dunia sudah mendapat apresiasi positif dalam memenuhi kriteria demokrasi modern yang sering dikaitkan dengan perlindungan HAM dan pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab.

"Ke depannya, akan memudahkan kita mengajukan opsi seperti imbal beli, kerja sama riset dan pengembangan, termasuk mekanisme pelayanan purna jual, dan keterlibatan industri strategis," tuturnya.

Lebih lanjut Teuku mengatakan, kemitraan ini juga harus dimanfaatkan baik dengan berbagai inisiatif dari pemerintah seperti adanya alih teknologi yang melibatkan perusahaan nasional. "Ini bisa dipadukan dengan alih teknologi melibatkan industri strategis Indonesia, seperti PT Pindad," katanya.

AFP melaporkan, harga keseluruhan transaksi pengiriman tank dari Jerman adalah sekitar 3,3 juta euro (lebih kurang Rp 41-42 miliar).

Indonesia pertama kali membahas rencana pembelian tank itu pada kunjungan Kanselir Angela Merkel ke Indonesia pada 2012. Juru bicara Merkel, Steffen Seibert menyebut Indonesia mitra penting merujuk pada pernyataan Merkel yang memuji Indonesia sebagai teladan untuk keragaman agama.